Thursday, May 28, 2009

Found this while browsing for Driftworks 1JZ R32 Skyline pictures at Flickr. Looks clean, and the driver looks like a young fella. Heard that his car has a 4AGE Silvertop underneath the clean body. Pictures thanks to danielbrindlephotography.

CLICK ON THE PICTURE FOR THE ORIGINAL SIZE!




It can smoke D1 style, no doubt!

There's no additional info about the car or who is the driver it self, but at least its cool to see another 'partner of yours' Stan eh?

Zamil

Kebayang enggak, skubek disulap jadi hot rod fighter! Itulah yang dilakukan Siswo Winoto dari Banyumas, Jawa Tengah. Builder dari Win's Paddock ini coba menumpahkan kreasinya lewat Yamaha Mio 2007 yang memadukan dua gaya.

Wiwin, sapaan akrab Winoto, terinspirasi bikin hot rod lantaran gaya itu lagi mewabah di daerahnya, ditambah pesona streetfighter. Mio milik Indra pun jadi sasaran.

Semula, ia ingin mengubah skubek itu jadi hot rod ala negro. Namun, dia menganggapnya masih kurang radikal dan eksplorasi dengan khas bikinannya. Bisikan pun datang di telinganya, yang mengusulkan streetfighter.

Khas hot rod sangat kentara pada ubahan kaki-kaki. "Cukup Menunjukkan aksen yang cenderung agak gendut mengarah ke bobber," ujar Wiwin yang penyuka musik R&B ini. Untuk mendukung konsepnya, diaplikasikanlah velg model jari-jari karena ingin menonjolkan kesan klasik. Kalau pakai velg mobil atau palang, alasannya, itu akan mengganggu konsepnya.

Berbicara konsep, itu tentu enggak lepas dari MEFRIK (modern, estetika, fungsional, rasional, inovasi, dan kreasi). Konsep yang tidak membenarkan modifikasi hanya enak dilihat, tapi tetap fungsional. Artinya bisa jalan, dan fungsi keamanan yang ada di motor tetap bekerja.

Desain bodi juga dikombinasikan dengan dua selera. Depan cenderung gendut dengan bentuk padat dan lebar khas hot rod. Gaya ini digabung dengan bodi belakang mungil yang lancip khas streetfighter.

Khusus untuk belakang, Wiwin sengaja bikin pola penuh sudut. "Supaya ciri streetfighter dapat, jadi terlihat bodi semakin maju dengan jok single," jelas Wiwin yang membocorkan panjang undur-undur sampai 25 cm.

Ciri ala petarung jalanan yang lainnya ada pada pemakaian rangka tubular di tengah dek depan. "Tidak ada fungsi secara material, cuma sebagian aksen visual semata biar nuansa streetfighter lebih terasa dan lebih dinamis," yakin Wiwin.

Sebagai jago fiber, ia memanfaatkan bahan serat gelas sebagai material bodi. Soal mal, lumayan rapi sehingga proporsinya tetap tampak apik ketika dilirik. Yang juga cukup menunjang ada pada pemilihan kelir. Dengan finishing rapi, cat merah Ferrari racikan Lessonal Plus Polired tampak menambah kesangarannya.

Di kalangan otomotif-mania, Mercedes-Benz SLR begitu dikenal dan diingat. Selain karena bentuknya yang memang kuat mencerminkan kesan sebagai sedan sport, tentu tenaganya pun sangat dahsyat. Ketika diperkenalkan saja, dapur pacu standar mengantongi angka 626 dk.

Buat yang doyan modifikasi, kebetulan ada MB-SLR yang sudah dipoles tampilan bodinya. Boleh percaya boleh tidak, yang melakukannya justru rumah modifikasi dari Swiss, yakni FAB Design.

Setara aerodinamika F1
Bedanya dengan pemodifikasi di Tanah Air, di sana mereka masih tetap mempertahankan keaslian tampilan. Untuk SLR ini, FAB yang suka mengacak-acak sport cars sudah merancang ulang eksterior. Tujuannya, menghasilkan tingkat aerodinamika setara dengan mobil balap F1.

Tak cuma itu, target lainnya, menyunat bobot standar yang 1.768 kg. Sebagai gantinya, FAB menggunakan bahan serat karbon. Di samping ringan, kekuatan sangat dijamin. Dari desain ulang itu tampak sekali kalau bagian-bagian yang punya andil memberi down force ikut diperhatikan.

Mari kita sisir mulai dari depan. Rongga udara yang superbesar di bawah gril, selain untuk mendinginkan mesin dan penghenti laju, itu juga untuk mendapatkan daya cengkeram. Makanya, bagian bawah dikasih bibir. Bagian atas seperti dikasih sayap dan konturnya mengikuti bagian tengah kap mesin yang meruncing ke depan.

Coba kita bergeser ke sepatbor. Untuk bagian depan dikasih penutup yang seolah-olah menyatu dengan bumper. Fungsinya jelas, daya cengkeram roda depan bertambah. Fungsi lain, meredam cipratan air tidak sampai ke luar.

Angin yang mengalir dari depan melewati sayap tambahan di sepatbor langsung dialirkan lagi oleh mini-spoiler di sepatbor belakang. Lalu, sepatbor belakang menyatu dengan side skirt yang lebih sporty. Kemudian, pada bagian depan side skirt (belakang roda depan) menjadi rumah ujung knalpot yang kiri dan kanan yang masing-masing lubang tiga.

Sekarang bergeser ke belakang. Ada penambahan sayap belakang. Menariknya. Pegangannya simetris dengan garis sisi pinggir tutup bagasi. Begitu juga diffuser-nya, tidak dibikin seperti F1 yang berjajar, tapi bentuknya meruncing ke bawah mengikuti tutup bagasi.

Usai bodi, beralih ke mesin. Standar yang 626 dk dikilik lagi sampai 750 dk dengan torsi 1.080 Nm. Tidak disebutkan bagian mana yang disentuh dan komponen apa saja yang dipakai. Yang jelas, dari hasil jajalnya, untuk akselerasi dari 0 sampai 100 km/jam ditempuh hanya dalam waktu 3,6 detik.

Berarti, untuk ngebut mencapai 300 km/jam tidak terlalu sulit. Hanya, untuk menemukannya sedikit sulit lantaran FAB cuma membuat 15 unit saja.